KUNINGAN OKE- Insiden kebakaran di kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai kembali terjadi. Kali ini kobaran api terlihat pada Selasa (21/7/2026) siang usai dilaksanakanhya apel siaga Dalkarhutlah Provinsi Jawa Barat.
Apel siaga ini dihelat di lapangan BP2SDM Kementerian Kehutanan di Kecamatan Kadipaten Kabupaten Majalengka. Api terpantau di seputaran wilayah administrasi Desa Padabenghar, tepatnya di blok Cirendang, SPTN Wilayah I Kuningan sekitar pukul 11.50 WIB.
Beberapa Petugas Balai TNGC peserta apel Dalkarhutlah (4 orang) yang melakukan patroli di ODTWA Batu Luhur melihat kepulan asap. Hal itu juga berbarengan informasi dari masyarakat dan perangkat desa sekitar diterima oleh call center TNGC, petugas TNGC lainnya yang menyampaikan adanya asap yang terlihat di sekitar blok Cirendang.
“Positif A1, titik api berada di kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai, tepatnya di blok Cirendang, Desa Padabeunghar, Kecamatan Pasawahan. Laporan ini dari tim patroli yang berada di ODTWA Batu Luhur yakni Iyon K, Agus Sumarna, Andis NH dan Dede Rosade. Mereka langsung berkomunikasi dengan posko DALKARHUT SPTN I Kuningan yang berada di Desa Singkup, Kecamatan Pasawahan, " ucap Kepala BTNGC Toni Anwar SHUT MT.
Para petugas langsung bergerak ke titik api untuk melakukan pengendalian kebakaran tersebut. Sementara petugas posko berkoordinasi dengan para pihak (internal dan eksternal) untuk penanganan kebakaran selanjutnya.
Dikatakan, api cepat sekali menjalar karena mayoritas tutupan lahan berupa semak belukar kering dan tiupan angin yang kencang. Ada sejumlah luasan tanaman hasil penanaman kegiatan pembuatan sekat bakar hijau tahun 2024 dan tanaman hasil pemeliharaan sekat bakar hijau di blok Cirendang tahun 2025 dengan total sejumlah 2.750 tanaman.
Tanaman itu kata Toni, terdiri dari jenis Bayur (Pterospermum lanceaefolium), Beringin (Ficus benjamina), Kelor (Moringa oleifera). Lalu, Asam (Tamarindus indica), Buni (Antidesma bunius), Puspa (Schima wallichii), Bungur (Langerstromea sp.)
Kemudian, Pinang (Areca catechu), Nangka (Artocarpus heterophyllus), Petai (Parkia speciosa), Salam (Syzygium polyanthum) dan Manglid (Magnolia blumei), dengan usia tanaman dari usia 9 bulan (untuk tanaman hasil penyulaman) sampai dengan usia 2 tahun 5 bulan (untuk tanaman hasil penanaman pada kegiatan pembuatan sekat bakar hijau di Blok Cirendang tahun 2024).
Selanjutnya, upaya pemadaman dilakukan dengan menggunakan gepyok alami berupa ranting daun basah sambil menunggu peralatan pemadaman kebakaran hutan dan lahan yaitu jet shooter dan mesin pompa air yang ada di Posko DalkarhutlahSingkup tiba.
Menurut Anwar, Pukul 17.00 WIB kobaran api dapat dipadamkan. Selanjutnya ditindaklanjuti dengan mop up(tindakan mencari dan memadamkan sisa api sekecil apapun) ke beberapa titik bara api yang masih menyala untuk dipastikan api benar-benar telah padam.
"Perkiraan luas areal terbakar ± 14,9 Ha, dugaan sementara kebakaran yang terjadi pada grid 22J dan 22K (Blok Cirendang Desa Padabeunghar, Kecamatan Pasawahan. akibat kelalaian manusia," tandasnya.
Mengani personil yang terlibat dalam pemadaman di lapangan adalah Personil TNI, Personil Polri, Personil TNGC, Personil BPBD Kab.Kuningan. Lalu, MPA Padacik (Padabeunghar-Cikalahang), Mitra Pengelola ODTWA Koperasi Jaya Pakuan Pajaten, Pujangga Manik Batu Luhur, PDAM Gunung Jati Cirebon, Masyarakat Dusun Kaduela, Dusun Cirendang, Kelompok Paguyuban Silihwangi dan semua pihak yang berperan serta.
“Untuk luasan dan dugaan titik awal api akan dilakukan pengukuran besok hari Rabu 22/7/2026”, jelas Kepala Balai TNGC.
Lebih lanjut dikatakan, upaya pengendalian kebakaran hutan dan lahan terus dilakukan oleh Balai Taman Nasional Gunung Ciremai. Pengendalian kebakaran hutan selalu mengedepankan upaya pencegahan terjadinya kebakaran hutan.
Beberapa kegiatan pencegahan yang dilakukan antara lain: sosialisasi dan penyuluhan, rapat koordinasi dengan pihak terkait, patroli pengamanan kawasan rawan kebakaran hutan dan lahan, penyiapan embung-embung air yang ada, pembuatan dan pemeliharaan sekat bakar dan pembinaan mitra masyarakat (MPA dan MMP).
Menurut rilis BMKG, pada bulan Juli hingga Agustus 2026 mendatang, wilayah Kabupaten Kuningan diprediksi mengalami puncak musim kemarau pada periode Juli hingga September 2026. Sebagian besar wilayah Jawa Barat termasuk Kuningan diperkirakan menghadapi musim kemarau yang lebih kering dan panjang dibandingkan kondisi normal.
BMKG memprediksi puncak musim kemarau di sebagian besar wilayah Jawa Barat akan terjadi secara serentak pada Agustus 2026. Curah hujan pada Juli dan Agustus 2026 secara umum diprediksi masuk kategori bawah normal.
Ini berarti curah hujan akan jauh lebih rendah dan wilayah akan lebih kering dari biasanya. Untuk perkiraan jangka pendek, cuaca harian di Kuningan didominasi oleh kondisi cerah hingga cerah berawan.
BMKG mengingatkan bahwa musim kemarau bukan berarti hujan akan berhenti sepenuhnya. Potensi hujan ringan hingga sedang masih dapat terjadi pada kondisi tertentu. Suhu rata-rata cenderung lebih panas terutama pada siang hari.(azam/rls)

Posting Komentar untuk "Gunung Ciremai Terbakar, Kali Pertama di Tahun 2026, Diperkirakan Luasnya 14,9 Ha "