Loading...

Krupuk Metal Terkendala Bahan Bakar

 


KUNINGAN-Masyarakat Kabupaten Kuningan pastinya mengenal Kecamatan  Darma yang memiliki sebuah waduk yang digunakan untuk kebutuhan masyarakat Kuningan dan Kabupaten Cirebon. Tapi selain itu juga masyarakat mengenal wilayah ini sebagai sentra pembuatan Krupuk Metal.

Namun sayangnya semenjak diberlakukan konversi minyak tanah ke gas pada awal tahun 2009. Berangsur-angsur usaha yang digeluti sejak puluan tahun ini gulung tikar karena kendala biaya operasional yang membengkak sementara penghasilan tetap.

Menurut Uud Sayudi salah seorang pembuat krupuk Metal asal Desa Darma, sebelum diberlakukan konvesri pembut krupuk jumlahnya mencapai 20 orang tapi kini tinggal empat orang. Situasi ini tentunya memprihatinkan sebab krupuk merupakan makanan khas Kuningan yang tentunya harus dilestarikan.

“Wajar meraka sampai gulung tikar kami yang berempat saja hampir sama tapi berkat strategi bisa bertahan,” kata Uud kepada Radar kemarin (3/8).

Dikatakan,yang disebut strategi adalah bisa mencamurkan bahan bakar agar lebih irit untuk menggoreng krupuk yakni mencampurkan minyak tanah dengan solar. Meski hasilnya tidak 100 persen seperti hasil pengorengan  minyak tanah tapi ini lebih baik dari pada tidak produksi.

“Pernah mencoba menggunakan gas hasilnya krupuk kurang mengembang karena suhu api kurang panas. Namun kalau dipaksakan murni minyak tanah selain harga mahal juga pendistribusianya kurang tepat,” tandasnya.

Kebijakan konversi  bagi pembuat krupuk metal memberatkan apalagi ditamba setelah ada aturan tidak boleh menjemur di lapangan desa banyak yang pindah keluar desa. Dengan situasi ini lanjutnya, ia hanya bisa pasrah dan terus berusaha agar usa ini terus bertahan karena ingin melestarikan.

“Akibat bahan bakar malah dari biasa produksi tiap hari sekarang hanya mampu 4 hari itu juga dihasilkan per produksi 100 kg,” sebut generasi kedua dari Pa Amir ini.

Dikatakan, adapun mengenai harga krupuk yang namanya diambil dari kelompok musik cadas yakni Metalica karena  kryawaanya  berambut panjang (gondrong) dipatok Rp15 ribu/kg. Sementara pemasarannya, di fokuskan di wilayah III Cirebon padahal sebelumnya merambah ke tiap daerah. Tapi semenjak bahan bakar mahal produksinya dikurang dan juga permintaan dari dari luar daaerah  ditolak.

“Selain kendala tadi juga masalah kemasan yang harus bersaing dengan produk lain serta harga untuk kemasan yang dijual dalam ukuran lebih kecil,” tandasnya yang mnagku krupuk ini berbahan tepung tapioca dan gaplek.(mus)

Foto agus mustawan:  Semakin berkurangnya pembuat Krupuk Metal karena terkendala bana bakar yang mahal.

Posting Komentar untuk "Krupuk Metal Terkendala Bahan Bakar "