KUNINGAN OKE- Tempe merupakan makanan murah meriah, tapi bergizi. Pelaku usaha yang menggeluti usaha ini hampir ada di tiap desa di Kabupaten Kuningan, tak terkecuali di Desa/Kecamatan Pasawahan.
Di wilatayah utara Kuningan yang berbatasan dengan Kabupaten Cirebon jumlah pengrajin tempe cukup banyak. Namun, sayangnya usaha ini tidak berkembang alias berjalan di tempat.
Para pengrajin hanya mendapatkan sedikit laba dan hanya bisa digunakan untuk kebutuhan sehari. Pengrarjin sendiri bukan tidak ingin berkembang, namun situasi yang membuat mereka harus pasrah dengan keadaan.
Melihat kondisi seperti itu, mahasiswa Poltek Siber Cerdika Intertanational (SCI) yang sedang menjalankan kegiatan PRISMA 3.0, melakukan penelitian dengan menunjungi langsung ke usaha rumahan tempe tersebut.
Menurut Suhendi yang menjadi Ketua Kelompok Penelitian pengarajin tempe di Pasawahan, sebenarnya punya peluang besar untuk berkembang. Tempe adalah makanan sehari-hari yang selalu dicari masyarakat. Namun, di balik potensi tersebut, banyak pelaku usaha justru merasakan tekanan yang semakin berat.
"Masalah yang dihadapi bukan sekadar soal produksi, tapi juga faktor eksternal yang sulit dikendalikan oleh pelaku usaha kecil," ujar Suhendi yang melakukan kunjungan bersama 9 rekannya.
Menurutnya, mengapa pengrajin tempe di Desa Pasawahan sulit bersaing? jawabanya terdapat beberapa alasan UMKM tempe di desa tersebut belum bisa berkembang yakni jumlah kompetitor terus bertambah.
Diterangkan, saat ini, kompetitor UMKM tempe semakin banyak. Tidak hanya dari dalam desa, tetapi juga dari wilayah sekitar yang masuk dengan harga lebih murah atau distribusi lebih luas. Akibatnya, pasar yang dulunya cukup stabil kini harus dibagi ke lebih banyak produsen.
Masalahnya kata dia,, sebagian pelaku UMKM tempe masih mengandalkan pola lama. Produknya hampir sama, kemasan sederhana, dan pemasaran hanya mengandalkan pelanggan tetap.
"Ketika ada pesaing yang menawarkan tampilan lebih menarik atau harga lebih rendah, konsumen cenderung berpindah tanpa banyak pertimbangan," tandasnya, Jumat (2/1/2026).
Di titik ini lanjut Suhendi persaingan terasa berat bukan hanya karena jumlah pesaing, tetapi karena kurangnya pembeda antar produk. Intinya harus ada inovasi dari penjual.
Masalah kedua adalah ketergantungan pada kedelai impor. Salah satu tantangan terbesar UMKM tempe adalah ketergantungan pada kedelai impor. Harga kedelai sering berubah dan cenderung naik.
"Ketika harga bahan baku melonjak, biaya produksi ikut naik, sementara harga jual tempe sulit dinaikkan karena pasar sangat sensitif," sebutnya.
Jika harga tempe dinaikkan, risiko kehilangan pelanggan sangat besar. Namun, jika tidak dinaikkan, keuntungan semakin tipis. Kondisi ini membuat UMKM berada di posisi serba salah.
Selain harga, kualitas kedelai impor juga tidak selalu konsisten. Hal ini berpengaruh pada hasil fermentasi dan kualitas tempe yang dihasilkan, sehingga bisa menurunkan kepercayaan konsumen.
Adapun faktor ketiga adalah cuaca hujan mengganggu proses produksi. Cuaca hujan yang sering terjadi juga menjadi kendala serius. Proses fermentasi tempe sangat dipengaruhi oleh suhu dan kelembapan. Saat musim hujan tiba, produksi tempe bisa lebih lama bahkan gagal.
"Jika produksi terganggu, jumlah tempe yang dijual otomatis berkurang. Dalam jangka panjang, kondisi ini bisa membuat UMKM kehilangan pelanggan karena pasokan tidak stabil. Sayangnya, banyak pelaku usaha belum memiliki sistem produksi yang mampu beradaptasi dengan perubahan cuaca," ujar Suhendi lagi.
Dari hasil kujungan itu, pihaknya bisa menyimpilkan, kesulitan UMKM tempe di Desa Pasawahan bukan hanya disebabkan oleh satu faktor. Persaingan yang semakin ketat, ketergantungan pada kedelai impor, dan dampak cuaca hujan saling berkaitan dan memperberat kondisi usaha.
"Jika tidak ada upaya adaptasi, inovasi, dan perbaikan strategi, UMKM tempe akan terus berada dalam posisi sulit untuk bersaing dan berkembang di pasar lokal," pungkasnya.(azam)

Posting Komentar untuk "Pengrajin Tempe di Desa Pasawahan Tidak Berkembang, Mahasiswa Poltek SCI Cari Penyebab"