Loading...

Baru Beres Dibangun, Auning Pertokoan Siliwangi Bocor, Lampu Hias Padam

  

KUNINGAN (OKE)- Pertokoan Siliwangi baru kelar dilakukan penataan dan kini terlihat megah serta  indah. Apalagi kini tidak ada PKL sehingga kawasan ini menjadi enak dipandang. 

Biaya yang digelontorkan oleh Pemkab Kuningan untuk menata kawasan ini adalah Rp3,2 Miliar. Namun, sayang meski baru ditata, para pemilik toko mengeluhkan bocornya auning di beberapa titik.

Hal ini terlihat ketika hujan deras turun. Bukan itu saja lampu hias juga padam. Padahal padamnya sudah lebih dari dua hari. Namun, hingga saat ini belum ada tindakan dari pihak terkait.

"Untuk melihat auning bocor atau tidak, bisa melihat keramik basah atau tidak. Terus kalau melihat ke atas juga sangat jelas mana yang bocor," ujar salah seorang pemilik toko kepada kuninganoke.com.

Mengenai lampu hias yang padam adalah sebelah barat dan hasil pengamatannya sudah  2 minggu. Sedangkan yang sebelah barat sudah 4 hari. Pihaknya berharap segera diperbaiki.

Terpisah, Kadis PUTR Kuningan melalui Kabid Cipta Karya Handry Chalvian menyebutkan, terkait auning bocor  dan lampu yang padam masih dalam tanggungjawab pemborong atau rekanan.

"Kami sudah berkoordinasi  dengan pemborong, akan segera diperbaiki kalau cuaca memungkinkan, karena saat ini masih hujan," tandasnya.

Sekadar informasi, pasca penataan kawasan Pertokoan Siliwangi yang menghabiskan anggaran Rp3,2 miliar. Kini bangunan tersebut terlihat "mencrang" dan juga tidak pengap. Sebab, ada pembongkaran bangunan toko.

Bangunan yang dibongkar di bagian depan dan belakang pertokoan barat dan timur untuk dijadikan taman. Sedangkan di bagian tengah untuk jalan ke Pasar Pos dan juga ke kawasan Pujasera. 

Khusus yang dibongkar di pertokoan timur agar tidak mengganggu pohon bunut yang ditanam pada abad 14.

"Pertokoan Siliwangi dibangun sekitar tahun 1980-an. Dulu kawasan ini bekas pasar kambing," ujar Pemerhati Sejarah Kuningan, Nding Masku kepada kuninganoke.com belum lama ini.

Diterangkan, pasca dijadikan pertokoan, pasar kambing beberapa kali pindah dan hingga sekarang belum mempunyai lokasi yang paten. 

Alasan pertokoan di bangun di Jalan Siliwangi karena berada di kawasan titik KM nol Kuningan atau lokasi yang mempunyai sejarah.

"Tempat tersebut boleh dibilang merupakan tempat sejarah, dimana titik KM dihitung dari lokasi tersebut," ujarnya.

Diterangkan, Tugu KM yang tingginya 72 Cm berada di dekat toko emas dibangun pada zaman Belanda ketika Van Beck berkuasa di kota kuda. Menir Belanda berkuasa di Kuningan pada tahun 1860-1902 dan dibangun 1875.

"Ia merupakan perwakilan residen Cirebon di Wilayah Kuningan. Titik nol ini serentak dan ditetapkan pada saat Jendral Hindia Belanda Herman Wiliam Daendels. Daendels membangun mega proyek Anyer hingga Panarukan," jelasnya.

Bukan hanya membangun tugu KM nol tapi, juga pendopo, kantor pos, pegadaian dan juga alan-alun yang kini menjadi taman kota. Sedangkan jalan pertama yang dibangun adalah Cirebon-Ciawigebang dan berlanjut Cirebon-Kadugede dan hingga Ciamis.

"Banyak jalan di Kuningan awalnya atas ide Van Beck. Makamnya kini masih kokoh di Kelurahan Cigugur dekat Kanor Koramil Cigugur atau Jalan Cigugur-Cisantana," ujarnya. 

Jangan lupakan juga, pembangunan patok untuk bendungan di Kecamatan Cimahi. Tujuan patok untuk membangun bendung dan akhirnya terwujud Bendungan Kuningan yang tidak jauh dari patok. 

Nding juga menyebutkan, di sekitar pertokoan Siliwangi juga ada pohon tua jenis bunut yang ditanam pada abad ke-14. Ia meminta pohon tua tersebut jangan sampai hilang seperti di Taman Kota. 

"Tiga pohon yang tersisa merupakan saksi bisu perjalanan Kabupaten Kuningan hingga sekarang ini. Dua lagi di Jembatan Citamba dan depan Pegadaian Kuningan," ucapnya.    

Awalnya pohon itu kata Nding ditanam oleh Belanda adalah beringin, tapi kelamaan justru parasit yakni bunut yang tumbuh besar. Selain sebagai pohon yang bisa menghasilkan sumber air, pohon ini menjadi penanda di empat titik di Kuningan.

"Orang Belanda itu dalam menanam pohon tidak asal. Tapi ada makna sehingga dijadikan patokan pada masa itu," jelas pria yang bekerja di Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Kuningan.

"Ini harta karun yang masih tersisa. Saya berharap jangan sampai ditebang biarlah hilang secara alamiah," jelasnya. 

Selain tiga pohon tua, juga ada pohon di tempat lain seperti di depan bank bjb Kuningan. Sedangkan sisanya kebanyakan di pemakaman umum. 

Dulu, selain di bank bjb, juga adi Jalan Aruji, Cijoho dan Cilowa. Namun sayangnya semua sudah hilang karena tergerus oleh pembangunan.(rdk)


Posting Komentar untuk "Baru Beres Dibangun, Auning Pertokoan Siliwangi Bocor, Lampu Hias Padam"