KUNINGAN OKE- Beberapa waktu terakhir, media sosial sering dipenuhi foto dan video indah dari kawasan Gunung Ciremai. Mulai dari jalur pendakian yang menantang, hamparan hutan hijau, hingga panorama matahari terbit yang memukau. Banyak wisatawan datang ke Kuningan untuk menikmati keindahan alam yang menjadi kebanggaan masyarakat daerah ini.
Namun di balik keindahannya, ada satu pertanyaan yang perlu kita renungkan bersama. Apakah kita sudah benar-benar menjaga alam Ciremai, atau hanya menikmati keindahannya tanpa memikirkan masa depannya?
Bagi masyarakat Kuningan, Gunung Ciremai bukan sekadar destinasi wisata. Gunung tertinggi di Jawa Barat ini merupakan sumber kehidupan bagi banyak orang. Air yang mengalir ke sawah, kebun, dan rumah-rumah warga sebagian besar berasal dari kawasan hutan yang terjaga di sekitar Ciremai. Tidak berlebihan jika banyak orang menyebut bahwa kelestarian Ciremai sangat menentukan masa depan Kuningan.
Sayangnya, berbagai persoalan lingkungan masih sering ditemukan. Sampah yang ditinggalkan wisatawan, vandalisme di beberapa lokasi wisata alam, hingga aktivitas yang berpotensi merusak kawasan hutan masih menjadi pekerjaan rumah bersama. Persoalan ini mungkin terlihat kecil jika terjadi sekali atau dua kali. Namun jika terus berulang, dampaknya akan terasa dalam jangka panjang.
Sebagai mahasiswa yang lahir dan besar di Kuningan, saya sering merasa bangga ketika melihat daerah ini dikenal sebagai salah satu tujuan wisata alam di Jawa Barat. Banyak teman dari luar daerah yang tertarik berkunjung karena mendengar keindahan Telaga Biru, Palutungan, atau kawasan kaki Gunung Ciremai lainnya. Kehadiran wisatawan tentu membawa manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar. Warung makan menjadi ramai, penginapan mendapatkan tamu, dan pelaku UMKM memperoleh tambahan penghasilan.
Akan tetapi, peningkatan jumlah pengunjung juga harus diimbangi dengan kesadaran untuk menjaga lingkungan. Jangan sampai promosi wisata yang semakin masif justru berakhir pada kerusakan alam yang sulit diperbaiki.
Kita sering melihat fenomena yang cukup ironis. Banyak orang datang ke tempat wisata untuk mencari suasana alam yang bersih dan asri, tetapi sebagian dari mereka justru meninggalkan sampah setelah menikmati tempat tersebut. Botol plastik, bungkus makanan, hingga tisu bekas masih sering ditemukan di beberapa lokasi wisata alam. Padahal membawa kembali sampah yang kita hasilkan bukanlah hal yang sulit dilakukan.
Masalah lingkungan sebenarnya tidak selalu membutuhkan solusi yang rumit. Kadang perubahan besar justru dimulai dari kebiasaan sederhana. Tidak membuang sampah sembarangan, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, serta menghormati aturan yang berlaku di kawasan wisata merupakan langkah kecil yang bisa dilakukan siapa saja.
Peran generasi muda juga sangat penting dalam menjaga kelestarian Ciremai. Saat ini banyak anak muda Kuningan yang aktif membuat konten tentang wisata daerah melalui Instagram, TikTok, maupun platform lainnya. Hal tersebut tentu menjadi sesuatu yang positif karena membantu memperkenalkan potensi daerah kepada masyarakat luas.
Namun akan lebih baik jika promosi wisata tidak hanya menampilkan keindahan alamnya, tetapi juga mengajak pengunjung untuk ikut menjaga lingkungan. Konten tentang pentingnya menjaga kebersihan, melestarikan hutan, atau menjaga sumber mata air juga perlu diperbanyak. Dengan begitu, media sosial tidak hanya menjadi sarana promosi, tetapi juga sarana edukasi.
Pemerintah, pengelola wisata, komunitas lingkungan, dan masyarakat tentu memiliki peran masing-masing. Namun menjaga alam tidak bisa hanya dibebankan kepada satu pihak. Kelestarian lingkungan merupakan tanggung jawab bersama. Sebagus apa pun program yang dibuat, hasilnya tidak akan maksimal jika kesadaran masyarakat masih rendah.
Kuningan selama ini dikenal sebagai daerah yang memiliki kekayaan alam luar biasa. Predikat sebagai kabupaten konservasi bukan hanya sekadar slogan yang dipasang di berbagai sudut kota. Predikat tersebut seharusnya menjadi pengingat bahwa pembangunan dan pelestarian lingkungan harus berjalan beriringan.
Kita mungkin tidak langsung merasakan dampak ketika satu orang membuang sampah sembarangan atau ketika satu pohon ditebang secara ilegal. Namun jika perilaku tersebut terus terjadi dan dianggap biasa, kerusakan akan terakumulasi dari waktu ke waktu. Pada akhirnya, generasi mendatang yang akan menanggung akibatnya.
Menjaga Gunung Ciremai bukan hanya tentang melindungi hutan atau menjaga pemandangan agar tetap indah. Lebih dari itu, menjaga Ciremai berarti menjaga sumber air, menjaga kehidupan masyarakat, menjaga sektor pariwisata, dan menjaga masa depan Kabupaten Kuningan itu sendiri.
Keindahan alam yang kita nikmati hari ini bukanlah warisan dari generasi sebelumnya semata, melainkan titipan untuk generasi yang akan datang. Karena itu, menjaga alam Ciremai sesungguhnya adalah upaya menjaga masa depan Kuningan agar tetap hijau, lestari, dan membanggakan.
Penulis : Dinda
Mahasiswa Uniku
Posting Komentar untuk "Menjaga Alam Ciremai, Menjaga Masa Depan Kuningan"