KUNINGAN OKE-Bagi masyarakat Dusun Kahiyangan, Desa Legokherang, Kecamatan Cilebak, jarak dari pusat kota bukanlah penghalang untuk menciptakan kemeriahan. Di wilayah Kuningan Selatan yang asri ini, Idul Adha bukan sekadar ritual ibadah, melainkan panggung nyata dari indahnya gotong royong dan persatuan.
Sinergi Dua Sesepuh, Motor Penggerak Warga
Kehangatan di RT 14, yang dihuni sekitar 30 sampai 40 Kepala Keluarga (KK) ini, tidak lepas dari peran dua sosok sepuh yang dihormati:
Bapak RT Adtruri (Ki Adun): Sang ketua RT yang dengan sabar dan cekatan mengoordinasikan warga, memastikan setiap detail persiapan Idul Adha berjalan lancar.
Bapak Saptori (Ki Yanto): Kiai setempat yang membimbing sisi rohani warga, memimpin doa, dan memastikan kekhusyukan ibadah kurban mengalir ke setiap hati.
Di bawah bimbingan Ki Adun dan Ki Yanto, keterbatasan jumlah warga justru berubah menjadi kekuatan.
Bukti Nyata Kegotongroyongan: 1 Sapi dan 4 Kambing
Tahun ini, keikhlasan warga RT 14 berbuah manis dengan hadirnya 1 ekor sapi dan 4 ekor kambing untuk dikurbankan. Angka ini menjadi bukti nyata bahwa urusan berkurban bukanlah soal kemewahan, melainkan soal niat tekad yang kuat dari para petani lokal penyadap gula aren dan warga sekitar.
Sejak pagi hari setelah salat Id, suasana dusun langsung riuh dengan aktivitas:
Bahu-Membahu: Para pria dewasa dengan sigap berbagi tugas merobohkan dan menyembelih hewan kurban, dilanjutkan dengan menguliti dan memotong daging.
Dapur Umum Darurat: Kaum ibu berkumpul, mengiris bumbu, menyiapkan konsumsi untuk warga yang bekerja, dan menyiapkan anyaman bambu atau daun sebagai wadah daging yang ramah lingkungan.
Pulang Kampungnya Para Perantau: Kehadiran anak-anak muda Kahiyangan yang merantau di kota-kota besar seperti Jakarta dan Bandung menambah kental rasa haru dan meriah. Momen ini menjadi ajang melepas rindu sekaligus kesempatan bagi mereka untuk membaktikan diri, membantu orang tua di kampung halaman.
Teladan dari Pinggiran Kuningan
Apa yang terjadi di RT 14 Dusun Kahiyangan adalah sebuah keteladan yang patut dicontoh. Di tengah kesederhanaan hidup sebagai petani penyadap aren, mereka mampu menunjukkan bahwa kegotongroyongan adalah modal sosial terbesar yang mereka miliki.
Tidak ada yang merasa paling berjasa, semua bekerja demi satu tujuan: memastikan seluruh warga dusun dapat menikmati berkah daging kurban di hari yang suci ini. Dari ujung selatan Kuningan, Dusun Kahiyangan mengirimkan pesan hangat tentang arti sebuah kebersamaan yang tulus.


Posting Komentar untuk "Gema Takbir di Batas Wilayah: Idul Adha Penuh Berkah di Dusun Kahiyangan"